Rp.37.000

Saat ini begitu mudah mendapatkan berbagai jenis deodoran atau produk antikeringat (antiperspirant) untuk mengusir bau badan (BB). Selain praktis, aneka produk tersebut juga memiliki wewangian yang memikat. Masalahnya, apakah produk-produk itu cukup aman untuk tubuh? Menurut Dr. Retno I.S Tranggono, Sp.,KK, dokter spesialis kulit dan kelamin yang juga pengusaha produk kosmetik, pada prinsipnya deodoran baik dan aman, tapi pada kasus tertentu memang dapat menimbulkan alergi kulit.
 

Deodoran berfungsi untuk menekan timbulnya BB atau menyamarkannya. Sedangkan antikeringat berfungsi untuk menghambat produksi keringat. Amankah jika produksi keringat itu dihambat setiap hari? Sejauh ini baik Dr. Retno maupun Dr. H. Arijanto Jonosewojo, Sp.PD, ahli penyakit dalam dari RS Dr. Soetomo Surabaya, mengaku belum pernah menerima keluhan pasien sehubungan dengan akibat sampingnya, seperti risiko kanker akibat pemakaian deodoran maupun antikeringat.

Baik deodoran maupun antikeringat, digunakan untuk mengurangi bau tak sedap. Menurut Dr. Gunawan Budisantoso, Sp.KK, dari RS Persahabatan Jakarta, bau badan yang hendak diusir itu biasanya timbul dari kelenjar apocrine, misalnya di daerah ketiak. Baik deodoran maupun antikeringat sama-sama bekerja dengan cara membunuh bakteri penyebab BB. Perbedaannya, antikeringat selain membunuh bakteri juga bertugas mengurangi jumlah keringat.

Pada kondisi normal, ketiak mengeluarkan rata-rata 400-500 mg keringat setiap 20 menit, pada suhu 35ーC. Menurut spesialis kulit dan kelamin, Dr. Retno I. Tranggono, antikeringat mampu mengurangi keringat hingga 20-25 persen, atau maksimal 40 persen dari produksi normal. "Itu dilakukan dengan cara mempersempit pori-pori kulit tempat keluarnya keringat. Cairan keringat yang tertahan kemudian diserap kembali atau dilakukan resobsi oleh jaringan kulit," ujar Dr. Retno.

Kemampuan antikeringat terutama disebabkan oleh kandungan bahan aktifnya. Semua jenis deodoran antikeringat biasanya mengandung beberapa senyawa aktif yang berbasis pada unsur aluminium. Yang paling umum digunakan adalah almunium chlorohydrate, almunium chloride, almunium hydroxibromyde, dan almunium zirconium trichlorohydrex gly.

Baik Dr. Gunawan dan Dr. Retno sama-sama berpendapat bahwa baik deodoran maupun antikeringat relatif aman dan efektif. Hanya saja, bagi yang bermasalah dengan alergi kulit memang harus tetap waspada seperti:

Penggunaan bahan baku yang melebihi tingkat keasaman yang disarankan untuk produk kosmetika, akan menimbulkan berbagai keluhan, misalnya reaksi alergi ringan sampai berat dan hiperpigmentasi, atau menimbulkan noda pada pakaian.
Antikeringat yang menggunakan bahan baku zaconium, bisa menimbulkan efek samping berupa bintik-bintik merah yang tidak gatal.
Parfum yang digunakan sebagai pengawet dalam deodoran juga dapat menyebabkan alergi.

RJ Roll On Antiperspirant Deodorant adalah pilihan yang aman. Efektif mengontrol keringat berlebihan dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab aroma tubuh kurang sedap. Mengandung formula 2 in 1, yaitu Tea Tree Oil dan Farnesol. Tea Tree Oil adalah tumbuhan asli Australia, berfungsi sebagai antibakteri dan anti jamur alami. Farnesol adalah bahan aktif alami dari teh hijau yang sangat efektif menekan pertumbuhan bakteri penyebab aroma tubuh kurang sedap.